Senin, 07 Januari 2019

MATERI HASIL KALI SILANG DAN CONTOH SOAL

‘ HASIL KALI SILANG ’

MAKALAH







Oleh
KELOMPOK 5
KETUA : ANGEL ERUMKUY (2017-79-055)
ANGGOTA : WINDY PRAMUDITA (2017-79-024)
BELLA A.P YUNUS (2017-79-002)
ELISABETH BORMASA (2017-79-068)
GILBERT SOUISA (2017-79-015)
FRETERLI HUWAE (2017-79-058)
HARDY Z A BATLAJERY (2017-79-053)
HANS PATIPEILOHY (2017-79-051) (tidak aktif)


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018

KATA PENGANTAR 

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah tentang "Hasil Kali Silang". Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini demi untuk menunjang nilai penulis. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini, terlebih khusus kepada bapak Z. A. Leleury, S.Si., M.Si. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih makalah kami masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang hasil kali silang ini dapat memberikan manfaat maupun pengetahuan terhadap pembaca.
Ambon, Desember 2018
Kelompok 2

DAFTAR ISI
SAMPUL KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB. I. PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang .................................................................................................... 1
I.2 Rumusan masalah ............................................................................................... 2
I.3 Tujuan penulisan................................................................................................. 2
I.4 Manfaat penulisan............................................................................................... 2
BAB. II. PEMBAHASAN
II.1 Hasil Kali Silang ............................................................................................... 3
II.2 Penerapan Hasil Kali Silang .............................................................................. 9
BAB. III. PENUTUP
III.1. Kesimpulan ................................................................................................... 10
III. 2. Saran ............................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 11
LAMPIRAN ........................................................................................................... 12

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkalian antara dua vektor tidak seperti perkalian antara dua bilangan real. Perkalian antara dua bilangan real hasil kalinya adalah sebuah bilangan real. Namun hasil kali dua vektor belum tentu demikian. Ada beberapa jenis perkalian vektor dengan notasi dan hasil yang berbeda. Ada perkalian yang menghasilkan skalar yang disebut hasil kali titik (dot product) dan ada perkalian yang menghasilkan vector yang disebut hasil kali silang (cross product).
Hasil kali titik antara dua vector didefinisikan sebagai hasil kali panjang/norma kedua vektor dan cosines sudut antara vektor tersebut. Begitu juga dengan hasil kali silang antara dua vektor didefinisikan sebagai hasil kali panjang/norma kedua vektor dan sinus sudut antara vektor tersebut. Nilai dari hasil kali titik adalah bilangan real dan nilai dari hasil kali silang dapat berupa vektor. Nilai dari hasil kali titik antara dua vektor di ๐‘…2 adalah sebagai berikut:
๐’–.๐’—−|๐’–| |๐’—|๐‘๐‘œ๐‘  ๐œฝ 0° ≤ ๐œƒ ≤180°
atau ,
๐’– .๐’— = u1v1 + u2v2
dan nilai hasil kali titik di ๐‘…3 adalah
๐’–.๐’—−|๐’–| |๐’—|๐‘๐‘œ๐‘  ๐œฝ 0° ≤ ๐œƒ ≤180°
atau ,
๐’– .๐’— = u1v1 + u2v2 + u3v3
sementara itu, hasil kali silang vektor di ๐‘…3 adalah
๐’–.๐’—−|๐’–| |๐’—|๐‘ ๐‘–๐‘› ๐œฝ
atau
๐’–×๐’— = u2v3 – u3v2, u3v1 – u1v3, u1v2 – u2v1
Dengan demikian hasil kali titik dan silang dapat diinterpretasikan secara geometri, hasil kali titik dapat membuktikan rumus trigonometri (cosinus jumlah sudut dan selisih sudut) dan kali titik dan silang dapat dikaitkan dengan determinan.

I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dalam makalah ini ada 2 (dua) rumusan masalah yang terkaji yakni :
1.Apa yang dimaksud dengan hasil kali silang?
2.Bagaimana cara menerapkan hasil kali silang?

I.3 Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk dapat mengetahui apa itu hasil kali silang.
2. Untuk dapat mengetahui cara menerapkan hasil kali silang.

I.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Pembuatan makalah ini telah memberikan berbagai pengalaman seperti pengalaman untuk mengumpulkan bahan. Disamping itu,penulis juga mendapat ilmu untuk memahami dan menganalisis materi yang ditulis sehingga mendapatkan berbagai pengalaman mengenai teknik penulisan makalah, teknik pengutipan, dan teknik penggabungan materi dari berbagai sumber.
Pembaca akan lebih mengetahui tentang fungsi hasil kali silang pada Geometri dalam ruang, Vektor.

BAB II
PEMBAHASAN
HASIL KALI SILANG

Hasil kali titik dua vektor adalah skalar. Hasil kali silang (hasil kali vektor) memiliki banyak kegunaan. Hasil kali silang ๐’– ๐‘ฅ ๐’— dari u = <u1, u2, u3> dan v = <v1, v2, v3> didefenisikan sebagai
๐’– ๐‘ฅ ๐’— = <u2v3 – u3v2, u3v1 – u1v3, u1v2 – u2v1>
Hasil kali silang dua vektor adalah sebuah vektor.
Determinan akan sangat membantu untuk menghitung rumus dari hasil kali silang. Pertama, nilai determinan 2 × 2 adalah
|๐‘Ž ๐‘๐‘ ๐‘‘| = ๐‘Ž๐‘‘– ๐‘๐‘
Maka nilai determinan 3 × 3 ( penguraian menurut baris teratas) adalah
|๐‘Ž1๐‘Ž2๐‘Ž3๐‘1๐‘2๐‘3๐‘1๐‘2๐‘3| =๐‘Ž1|๐‘Ž1๐‘Ž2๐‘Ž3๐‘1๐‘2๐‘3๐‘1๐‘2๐‘3|–๐‘Ž2|๐‘Ž1๐‘Ž2๐‘Ž3๐‘1๐‘2๐‘3๐‘1๐‘2๐‘3|−๐‘Ž3|๐‘Ž1๐‘Ž2๐‘Ž3๐‘1๐‘2๐‘3๐‘1๐‘2๐‘3|
= ๐‘Ž1|๐‘2๐‘3๐‘2๐‘3|−๐‘Ž2|๐‘1๐‘3๐‘1๐‘3|−๐‘Ž3|๐‘1๐‘2๐‘1๐‘2|
Dengan menggunakan determinan-determinan maka dapat dituliskan defenisi u x v sebagai
๐’– × ๐’— = |๐’Š ๐’‹ ๐’Œ๐‘ข1๐‘ข2๐‘ข3๐‘ฃ1๐‘ฃ2๐‘ฃ3| = |๐‘ข2๐‘ข3๐‘ฃ2๐‘ฃ3|๐’Š−|๐‘ข1๐‘ข3๐‘ฃ1๐‘ฃ3|๐’‹–|๐‘ข1๐‘ข2๐‘ฃ1๐‘ฃ2|๐’Œ
Komponen vector u masuk kebaris kedua, dan komponen vector kanan v masuk kebaris ketiga. Hal ini penting karena jika menukarkan posisi vector u dan v, maka tukarkan baris kedua dan ketiga dari determinan dan ini akan mengubah tanda nilai determinan sehingga,
๐’– × ๐’— = −(๐’– × ๐’—)
Jadi akan terbentuk hukum antikomutatif.
Contoh 1
Misalkan u = < 1, -2, -1 > dan v = < -2, ,4, 1 >, Hitunglah u x v dan v x u mengunakan defenisi determinan.
Penyelesaian :
๐’– ×๐’— = | ๐’Š ๐’‹ ๐’Œ 1 −2 −1 −2 4 1| = |−2 −1 4 1|๐’Š−| 1 −1−2 1|๐’‹–| 1 −2−2 4 |๐’Œ
= 2๐’Š+๐’‹+0๐’Œ
๐’– × ๐’— = | ๐’Š ๐’‹ ๐’Œ −2 4 1 1 −2 −1| = | 4 1−2 −1|๐’Š−|−2 1 1 −1|๐’‹–| −2 4 1 −2 |๐’Œ
= −2๐’Š−๐’‹+0๐’Œ
Tafsiran Geometri ๐’–×๐’— seperti hasil kali titik hasil kali silang mendapatkan signifikansi dari tafsiran geometrinya.
Bukti :
Misalkan u = < 1, -2, -1 > dan v = < -2, 4, 1 >,
1. u∘ (๐’– ×๐’—) = u1(u2v3 – u3v2) + u2(u3v1 – u1v3)+ u3(u1v2 – u2v1). Saat menghilangkan tanda kurung, keenam suku saling menghapuskan dalam pasangan. Hal serupa terjadi pada saat menguraikan u∘ (๐’– × ๐’—).
2. Arti ketangan kanan untuk rangkap tiga u, v, ๐’– ×๐’—. ฮธ adalah sudut antara u dan v, dan tangan dikepalkan pada arah pemutaran melalui ฮธ yang membuat u berimpit dengan v. kelihatannya sukar dikembangkan secara analitis bahwa rangkap tiga yang ditunjukkan adalah system tangan kanan. Secara khusus bahwa karena ๐’Š×๐’‹ = k, rangkap tiga I ∘ j, ๐’Š × ๐’‹ adalah system tangan kanan.
3. Kesamaan Lagrange.
Teorema A
Misalkan u dan v vektor–vector dalam ruang dimensi tiga dan ฮธ sudut antara keduanya. Maka:
1. u∘ (๐’– × ๐’—)= 0 = v ∘ (๐’– ×๐’—) yakni ๐’– × ๐’— tegak lurus terhadap u dan v;
2. u, v, dan ๐’– × ๐’— membentuk suatu rangkap tiga system tangan kanan;
3. |๐’– × ๐’— | = |๐‘ข||๐‘ฃ| sin ฮธ;
|๐’– × ๐’— |2 = |๐‘ข|2|๐‘ฃ|2− (๐’– × ๐’—)2
|๐’– ×๐’— |2 = |๐‘ข|2|๐‘ฃ|2− (|๐‘ข||๐‘ฃ| cos ๐œƒ)2
= |๐‘ข|2|๐‘ฃ|2(1− ๐‘๐‘œ๐‘ 2๐œƒ)
= |๐‘ข|2|๐‘ฃ|2๐‘ ๐‘–๐‘›2๐œƒ
Oleh karena 0 ≤ ๐œƒ ≤ ฯ€, sin ฮธ ≥ 0. Jadi mengambil akar kuadrat yang utama menghasilkan
|๐’– × ๐’— | = |๐‘ข||๐‘ฃ| sin ฮธ
Dengan memiliki tafsiran geometri untuk ๐’– ∘ ๐’— dan ๐’– × ๐’— yang berarti bahwa, walaupun mula-mula kedua hasil itu didefenisikan dalam bentuk komponen-komponen yang tergantung pada salah satu pilihan system koordinat, sebenarnya keduanya bebas dari system koordinat. Keduanya adalah besaran-besaran geometri yang interistik sehingga akan memperoleh jawaban yang sama untuk ๐’– ∘ ๐’— dan ๐’– × ๐’— tidak peduli bagaimanapun perkenalan koordinat untuk menghitungnya.
Berikut adalah akibat sederhana dari Teorema A dan kenyataan bahwa vektor-vektor saling sejajar jika dan hanya jika sudut ฮธ antara mereka adalah 0o dan 180o.
Penerapan
Penerapan pertama adalah mencari persamaan bidang melalui tiga titik yang tidak segaris.
Contoh 2
Cari persamaan bidang (Gambar 2) yang melalui tiga titik P1 (1, -2, 3), P2 (4, 1, -2), P3 (-2, -3, 0).
Penyelesaian:
Andaikan u = P2P1 = < -3, -3, 5 > dan v = P2P3 = < -6, -4, 2 >. Maka,
๐’– ×๐’— = |๐’Š ๐’‹ ๐’Œ −3 −3 5 −6 4 2| =14๐’Š−24๐’‹−6๐’Œ
Bidang yang melalui bidang (4, 1, -2) dengan normal 14๐’Š−24๐’‹−6๐’Œ mempunyai persamaan
14 (x– 4) − 24(y− 1) − 6(z + 2) = 0
14x– 56 − 24y + 24 – 6z− 12 = 0
Teorema B
Dua vector u dan v dalam ruang dimensi tiga adalah sejajar jika dan hanya jika ๐’– × ๐’—=๐ŸŽ.
14x– 24y −6z = 56 − 24 + 12
14x– 24y −6z = 44
Contoh 3
Perlihatkan bahwa luas jajaran genjang dengan a dan b sebagai sisi yang berdampingan adalah |๐’‚ × ๐’ƒ |.
Penyelesaian:
Contoh 4
Misalkan a, b, dan c, vector-vektor yang semuanya tidak terletak pada bidang yang sama. Volume balok genjang yang ditentukan oleh a, b, dan c adalah
V = |๐’‚.(๐’ƒ × ๐’„) | = ||๐‘Ž1๐‘Ž2๐‘Ž3๐‘1๐‘2๐‘3๐‘1๐‘2๐‘3||
Penyelesaian
Jajaran genjang yang ditentukan oleh b dan c sebagai alas balok genjang. Luas alas ini adalah
|๐’ƒ × ๐’„ |; tinggi balok panjang h adalah nilai mutlak proyeksi scalar dari a pada ๐’ƒ × ๐’„ . Jadi,
h = |๐‘ข||cos๐œƒ| = |๐‘ข||๐‘Ž.(๐‘ × ๐‘)||๐‘ข||๐‘ × ๐‘| = |๐‘Ž.(๐‘ × ๐‘)||๐‘ × ๐‘|
dan
V = h|๐‘ × ๐‘| = |๐‘Ž.(๐‘ × ๐‘)|
Bahwa V dapat juga dinyatakan sebagai suatu determinan dikembangkan dengan cara menguraikan |๐‘Ž.(๐‘ × ๐‘)| dalam bentuk komponen-komponen kemudian membandingkannya dengan nilai determinan yang ditunjukkan.
Sifat-sifat aljabar aturan perhitungan dengan hasil kali silang disimpulkan dalam teorema berikut.
cara lain yang dapat membantu dalam menghitung hasil kali silang yang sangat sederhana tetapi penting.
i × ๐ฃ=๐ค ๐ฃ×๐ค=๐ข ๐ค×๐ข=๐ฃ
contoh 5
Hitung u ×๐’— jika ๐ฎ=3๐ข−2๐ฃ+๐ค dan ๐ฏ=4๐ข+2๐ฃ−3๐ค.
Penyelesaian
Cara menyelesaikannya menggunakan hukum distributif dan hukum antikomutatif.
Teorema C
Jika u, v dan w adalah vektor-vektor dalam ruang dimensi tiga dan k skalar
1. u × v = -(v × u) (anti komutatif)
2. u × (v + w) = (u × v) + (u × w)
3. k (u × v) = (ku) ×๐’—=๐’–×(k๐’—)
4. u×0=0×๐’–=0∘๐’–×๐’–=0
5. (u×๐’—) ∘ w = u ∘ (v×๐’˜)
6. u ∘ (v×๐’˜) = (u∘ w)v-(u∘ v)w
u ×๐’—=(3๐’Š−2๐’‹+๐’Œ)×(4๐‘–+2๐‘—−3๐‘˜)
= 12(i×๐’Š)+6(๐’Š×๐’‹)−9(๐’Š×๐’Œ)−8(๐’‹×๐’Š)−4(๐’‹×๐’‹)+ 6(๐’‹ ×๐’Œ)+ 4(๐’Œ×๐’Š)+ 2(๐’Œ× ๐’‹)− 3(๐’Œ×๐’Œ)
= 12(0)+6(๐’Œ)−9(−๐’‹)−8(−๐’Œ)−4(๐ŸŽ)+ 6(๐’Š)+ 4(๐’‹)+ 2(−๐’Š)− 3(๐ŸŽ)
= 4i + 13j + 14k
PENERAPAN HASIL KALI SILANG
Hasil kali silang memainkan peranan penting dalam mekanika. Misalkan ๐‘‚ adalah suatu titik tetap pada sebuah benda dan gaya F diterapkan pada titik lain pada bidang itu, yakni pada titik ๐‘ƒ. maka F cenderung memutar benda mengelilingi suatu sumbu yang melalui ๐‘‚ tegak lurus terhadap bidang ๐‘‚๐‘ƒ dan F. Vektor ๐œ= ๐‘‚๐‘ƒ⃗⃗⃗⃗⃗ ×๐‘ญ
Disebut torsi. Torsi ini searah dengan arah sumbu putar dan besarnya adalah |๐‘‚๐‘ƒ⃗⃗⃗⃗⃗ | |๐‘ญ| sin๐œƒ , yang tepat merupakan momen dari gaya terhadap sumbu putar akibat F.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa interpretasi hasil kali titik secara geometri dapat kembangkan melalui kesebangunan segitiga dan sehingga dapat mempermudah untuk mengingat formula cosinus sudut jumlah dan selisih dapat dibuktikan melalui hasil kali titik yaitu dengan melukiskan dua buah vector pada lingkaran unit, serta hasil kali titik dan silang dapat dikaitkan dengan determinan.
Hasil kali titik dua vektor adalah skalar. Hasil kali silang (hasil kali vektor) memiliki banyak kegunaan. Hasil kali silang ๐’– ๐‘ฅ ๐’— dari u = <u1, u2, u3> dan v = <v1, v2, v3> didefenisikan sebagai
๐’– ๐‘ฅ ๐’— = <u2v3 – u3v2, u3v1 – u1v3, u1v2 – u2v1>
Hasil kali silang dua vektor adalah sebuah vektor.
III.2 Saran
Menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan teliti dalam menjelaskan tentang makalah hasil kali silang dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Latihan soal-soal
1. misalkan a = -3i + 2j -2k, b = -i + 2j – 4k, dan c = 7i + 3j – 4k. carilah untuk masing-masing soal berikut.
a) a× b
b) a × ( b + c )
c) a ∘ ( b + c )
d) a × ( b × c )
penyelesaian:
a = -3i + 2j -2k
b = -i + 2j – 4k
c = 7i + 3j – 4k
A. a× b
a× b = |๐’Š๐’‹๐’Œ−๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ’|= |๐Ÿ−๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ’|๐’Š− |−๐Ÿ‘−๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ’|๐’‹+|−๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ๐Ÿ|๐’Œ
= (-8 + 4)i - (12 - 2)j + (-6 + 2)k
= -4i - 10j - 4k
B. a × ( b + c )
(b + c) = (-i + 2j - 4k) + (7i + 3j - 4k) = 6i + 5j -8k
a × ( b + c ) =|๐‘–๐‘—๐‘˜−32−265−8|= |2−25−8|๐‘–− |−3−26−8|j + |−3265|๐‘˜
= (-16 + 10)i - (24 + 12)j + (-15 - 12)k
= -6i – 36j - 27k
C. a ∘ ( b + c )
(b + c) = (-i + 2j - 4k) + (7i + 3j - 4k) = 6i + 5j -8k
a ∘ ( b + c ) = (-3i + 2j -2k) ∘ (6i + 5j -8k)
= -3(6) + 2(5) -2(-8)
= -18 + 10 +16
= 8
D. a × ( b × c )
( b × c ) = |๐‘–๐‘—๐‘˜−12−473−4|= |2−43−4|๐‘–− |−1−47−4|๐‘—+ |−1273|๐‘˜
= (-8 + 12)i - (4 + 28)j + (-3 - 14)k
= 4i - 32j - 17k
a × ( b × c ) = |๐‘–๐‘—๐‘˜−32−24−32−17|=|2−2−32−17|๐‘–− |−3−24−17|๐‘—+ |−324−32|๐‘˜
= (-34 - 64)i - (51+8)j + (96-8)k
= -98i - 59j +88k
2. jika a = < 3, 3, 1 >, b = < -2, -1, 0 > dan c = < -2, -3, -1 >, carilah untuk masing-masing soal berikut .
a) a× b
b) a × ( b + c )
c) a ∘ ( b × c )
d) a × ( b × c )
penyelesaian :
a = < 3, 3, 1 >
b = < -2, -1, 0 >
c = < -2, -3, -1 >
A. a× b
a× b = |๐’Š๐’‹๐’Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ๐ŸŽ|= |๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ๐ŸŽ|i - |๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ๐ŸŽ|๐’‹+ |๐Ÿ‘๐Ÿ‘−๐Ÿ−๐Ÿ|๐’Œ
= (0 + 1)i – (0 + 2)j + (-3 + 6)k
= 1i – 2j + 3k
B. a × ( b + c )
(b + c) = (-2, -1, 0) + (-2, -3, -1)
= (-4, -4, -1)
a × ( b + c ) = (3, 3, 1) × (-4, -4, -1)
= |๐’Š๐’‹๐’Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ’−๐Ÿ’−๐Ÿ|
= |๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ’−๐Ÿ|๐’Š− |๐Ÿ‘๐Ÿ−๐Ÿ’−๐Ÿ|j + |๐Ÿ‘๐Ÿ‘−๐Ÿ’−๐Ÿ’|๐’Œ
= (-3 + 4)i – (-3 + 4) j + (-12 + 12) k
= 1i – 1j +0k ; (1, -1, 0)
C. a ∘ ( b × c )
( b × c ) = |๐‘–๐‘—๐‘˜−2−10−2−3−1|= |−10−3−1|๐‘–− |−20−2−1|๐‘—+ |−2−1−2−3|๐‘˜
= (1 - 0)i – (2 - 0)j + (6 - 2)k
=1i - 2j + 4k ; (1, -2, 4)
a ∘ ( b × c ) = (3, 3, 1) ∘ (1, -2, 4)
= 3 (1) + 3(-2) + 1(4)
= 3 – 6 + 4
= 1
D. a × ( b × c )
( b × c ) = |๐‘–๐‘—๐‘˜−2−10−2−3−1|= |−10−3−1|๐‘–− |−20−2−1|๐‘—+ |−2−1−2−3|๐‘˜
= (1 - 0)i – (2 - 0)j + (6 - 2)k
=1i - 2j + 4k
a × ( b × c ) = |๐‘–๐‘—๐‘˜3311−24| = |31−24|๐‘– - |3114|๐‘— + |331−2|๐‘˜
= (12 + 2)i – (12 - 1)j + (-6 - 3)k
= 14i – 11j -9k ; (14, -11, -9)
3. carilah semua vektor yang tegak lurus trhadap vektor a = i + 2j + 3k dan b = -2i + 2j - 4k.
penyelesaian:
a× b = (i + 2j + 3k) ×(−2i+2j−4k)
= -2(i×i) + 2(i×j) – 4(i×k) – 4(j×i) + 4 (j×j) – 8(j×k) – 6(k×i) + 6(k×j) – 12(k×k)
= -2(0) + 2(k) – 4(-j) – 4(-k) + 4(0) – 8(i) – 6(j) + 6(k) – 2(0)
= 2k + 4j + 4k – 8i – 6j – 6i
= 6k – 2j- 14i
= -14i - 2j + 6k
4. carilah semua vektor yang tegak lurus terhaap vektor a = -2i + 5j – 2k dan b = 3i – 2j + 4k.
5. Carilah vektor satuan yang tegak lurus terhadap bidang yang ditentukan oleh tiga titik (1, 3, 5), (3, -1, 2) dan (4, 0, 1)
Penyelesaian :
Misalkan :
A = (1, 3, 5)
B = (3, -1, 2)
C = (4, 0, 1)
Sehingga, ๐ต๐ด⃗⃗⃗⃗⃗ = u = < 3-1, -1-3, 2-5> = <2, -4, -3>
๐ถ๐ด⃗⃗⃗⃗⃗ = v = < 4-1, 0-3, 1-5> = <3, -3, -4>
๐’– ×๐’— = |๐’Š ๐’‹ ๐’Œ 2 −4 5 3 −3 −4| =|−4 5−3 −4|๐’Š−|2 5 3 −4|๐’‹–| 2 −4 3 −3|๐’Œ
= (16−9)๐’Š−(−8+9)๐’‹+(−๐Ÿ”+๐Ÿ๐Ÿ)๐’Œ
= 7๐’Š−๐’‹+6๐’Œ
6. Carilah vektor satuan yang tegak lurus terhadap bidang yang ditentukan oleh tiga titik (-1, 3, 0), (5, 1, 2) dan (4, -3, -1)
Penyelesaian
u = < 5+1, 1-3,2-0 > = < 6, -2, 2 >
v = < 4+1, -3-3,-1-0 > = < 5, -6, -1 >
maka
u×v =|๐‘–๐‘—๐‘˜6−225−6−1|=|−22−6−1|i −|625−1|j +|6−25−6|k
= ( 2+12)i –(−6−10)๐‘— +(−36+10)๐‘˜
= <14, 16, -26>
1√196+256+676<14,16,−26>
= 〈7√282,8√282,−13√282〉
7. Carilah luas jajaran genjang dengan a = -i + j - 3k dan b = 4i + 2j - 4k sebagai dua sisi yang berdampingan
8. Carilah luas jajaran genjang dengan a = 2i + 2j - k dan b = -i + j - 4k sebagai dua sisi yang berdampingan
Penyeesaian:
Dik :
a = 2i + 2j – k
b = -i + j – 4k
dit : luas jajaran genjang?
penyelesaian
๐’‚ ๐’™ ๐’ƒ|๐’Š๐’‹๐’Œ๐’‚๐Ÿ๐’‚๐Ÿ๐’‚๐Ÿ‘๐’ƒ๐Ÿ๐’ƒ๐Ÿ๐’ƒ๐Ÿ‘|
๐’‚ ๐’™ ๐’ƒ|๐’Š๐’‹๐’Œ๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ’| = |2−11−4|๐‘–−๐‘—|2−1−1−4|+๐‘˜|22−11|
= (-8 + 1 ) i – ( -8 – 1 ) j + ( 2 + 2 )k
= -7i + 7j + 4k
||๐‘Ž ๐‘ฅ ๐‘||= √49+81+16= √146=12,1
9. Carilah luas seigitiga dengan (3,2,1), (2,4,6), dam (-1,2,5) sebagai titik-titik sudut
10. Carilah luas seigitiga dengan (1,2,3),(3,1,5), dam(4,5,6) sebagai titik-titik sudut
Penyelesaian:
Misalkan :
P1 : (1, 2, 3)
P2 : (3, 1, 5)
P3 : (4, 5, 6)
Andaikan, U = ๐‘ƒ2๐‘ƒ1⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗ = <2, -1, 2>
V = ๐‘ƒ2๐‘ƒ3⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗ = <-1, -4, -1>
U × V = |๐’Š๐’‹๐’Œ๐Ÿ−๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ’−๐Ÿ| = |−๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ’−๐Ÿ|๐’Š – |๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ|๐’‹+ |๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ’|๐’Œ
= (1 + 8)i – (-2 + 2)j + (-8 - 1)k
= 9i – 9k ; (9, 0, -9)
Luas segitiga = 12 |U × ๐• | = 12 √81+81= 9√22๐‘ 
11. Cari persamaan bidang yang melalui (1,3,2),(0,3,0) dan (2,4,3)
Penyelesaian :
P1 : (1, 3, 2)
P2 : (0, 3, 0)
P3 : (2, 4, 3)
Andaikan, U = ๐‘ƒ1๐‘ƒ2⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗ = <1, 0, 2>
V = ๐‘ƒ2๐‘ƒ3⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗ = <-2, -1, -3>
U × V = |๐’Š๐’‹๐’Œ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ‘| = |๐ŸŽ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ‘|๐’Š – |๐Ÿ๐Ÿ−๐Ÿ−๐Ÿ‘|๐’‹+ |๐Ÿ๐ŸŽ−๐Ÿ−๐Ÿ|๐’Œ
= 2i – j – k
Bidang yang melalui (0,3,0) dengan normal 2i – j – k memiliki persamaan
2(x - 0) – 1 (y - 3) – 1(z - 0) = 0 atau 2x – y – z = 0
12. Cari persamaan bidang yang melalui (1,1,2),(0,0,1) dan (-2, -3, 0)
13. Cari persamaan bidang yang melalui (-1,-2,3) dan tegak lurus terhadap dua bidang ๐‘ฅ−3๐‘ฆ+2๐‘ง=7 dan 2๐‘ฅ−27−๐‘ง= −3.
Penyelesaian :
Vektor normal
x– 3y + 2z = 7
2x – 2y – z = –3
n1 = (1,−2,2)
n2 = (2,−1,−1)
Misalkan n3 = (a,b,c)
Sehingga,
n1 × n3 = 0
(1,−2,2)× (a,b,c)=0
(๐‘Ž,−3๐‘,2๐‘) = 0
(๐‘Ž−3๐‘+2๐‘) = 0 ...... (1)
n2 × n3 = 0
(2,−1,−1)× (a,b,c)=0
(2๐‘Ž,−2๐‘,−๐‘) = 0
(2๐‘Ž−2๐‘−๐‘) = 0 ...... (2)
Eliminasi persamaan (1) dan (2)
๐‘Ž−3๐‘+2๐‘ = 0 ×2 2๐‘Ž−6๐‘+4๐‘ = 0
2๐‘Ž−2๐‘−๐‘ = 0 ×1 2๐‘Ž−2๐‘−๐‘ = 0
−4๐‘+5๐‘=0
−4๐‘=0
๐‘= 5๐‘4
Subtitusi nilai b ke persamaan (1)
๐‘Ž−3๐‘+2๐‘ = 0
๐‘Ž−3(5๐‘4)+2๐‘ = 0
๐‘Ž−15๐‘4+2๐‘ = 0
๐‘Ž−15๐‘4+2๐‘ = 0
๐‘Ž = 15๐‘4−2๐‘
๐‘Ž = 15๐‘4−8๐‘4
๐‘Ž = 7๐‘4
Untuk c = 4
๐‘= 5๐‘4
๐‘= 5(4)4
๐‘= 5
๐‘Ž = 7๐‘4
๐‘Ž = 7(4)4
๐‘Ž = 7
Sehingga, n = (7, 5, 4)
Persamaan yang terbentuk 7x – 5y – 4z = d
Karena, bidang melalui titik (−1,−2,3) maka 7(−1)– 5(−2)– 4(3)+๐‘‘=0
−7+(−2)–(12)+๐‘‘=0
−5+๐‘‘=0
๐‘‘=5
Jadi, persamaan yang terbentuk adalah 7x – 5y – 4z = 5
14. Cari persamaan bidang yang melalui (2,-3,2) dan sejajar bidang vektor-vektor 4i + 3j – k dan 2i – 5j + 6k.
Penyelesaian :
( 4i + 3j - k) × ( 2i - 5j + 6k) = 13i − 26j − 26k
= 13 (i – 2j – 2k)
1 ( x – 2) – 2 ( y+3)−2 ( ๐‘ง−2)=0
๐‘ฅ−2−2๐‘ฆ−6−2๐‘ง+4= 0
๐‘ฅ−2๐‘ฆ−2๐‘ง−2−6+4= 0
๐‘ฅ−2๐‘ฆ−2๐‘ง=4
15. Cari persamaan bidang yang melalui (6,2,-1) dan tegak lurus pada garis potong bidang 4๐‘ฅ−3+2๐‘ง+5=0 dan 3๐‘ฅ+2๐‘ฆ−๐‘ง+11=0.
16. Misalkan a dan b vektor-vektor tidak nol dengan titik pangkal sama dan c vektor tidak nol sembarang. Perlihatkan bahwa (a × b) × c adalah sebuah vektor yang sejajar bidang a dan b.
Penyelesaian:
a × b tegak lurus terhadap bidang a × b, maka a × b tegak lurus terhadap a dan b ( a × b ) × c tegak lurus terhadap a × b. maka bidang tersebut sejajar dengan bidang a dan b.
17. Carilah volume balok genjang dengan sisi <2,3,4>, <0, 4,-1> dan <5,1,3>
Penyelesaian:
V= |๐‘Ž.(๐‘×๐‘)|=I|23404−1513|I
=|2(12+1)−3(0+5)+4(0−20)|
=|26−15−80|
=(−69)
=69
18. Carilah volume balok genjang dengan sisi Carilah volume balok genjang dengan sisi 3i – 4j + 2k, -i + 2j + k, dan 3i – 2j + 5k.
Penyelesaian :
V = |๐š ∘ ( ๐› × ๐œ )|
( ๐› × ๐œ )= |๐‘–๐‘—๐‘˜−1213−25|= |21−25|๐‘–− |−1135|๐‘—+ |−123−2|๐‘˜
= (10 + 2)i – (-5 - 3)j + (2 - 6)k
= 12i + 8j - 4k
V = |๐š ∘ ( ๐› × ๐œ )|=|(3๐‘–−4๐‘—+2๐‘˜) ∘(12i + 8j – 4k)|
= |3(12)−4(8)+2(−4)|
= |36−32−8|
= |−4|
= 4
19. Misalkan ๐พ adalah balok genjang yang ditentukan oleh u = <3,2,1>, v = <1,1,2>, dan w = <1,3,3>.
a) Carilah volume ๐พ
b) Carilah luas permukaan yang ditentukan oleh u dan v
c) Carilah sudut antara u dan bidang yang mengandung permukaan yang ditentukan oleh v dan w.
20. Perlihatkan bahwa jika a, b, c dan d semuanya terletak sebidang, maka
(a × b) × ( c × d ) = 0
21. Volume tetrahedron diketahui sebagai 13 ( lua alas ) ( tinggi ). Dari ini, perlihatkan bahwa volume tetrahedron dengan sisi-sisi a, b, dan c adalah 16 |๐š .(๐› ×๐œ) |.
Penyelesaian: volume tetrahedron yaitu ⅓ × luas alas × tinggi.
Diberikan b dan c menentukan dasar (tringular) tetrahedron. Kemudian luas dasarnya 12‖๐‘.๐‘‖ yang setengah dari luas parralelogram ditentukan oleh b dan c. Ini, 13(luas alas)(tinggi) = 13 [ 12 (luas dari jajargenjang )(tinggi) ] = 16 |๐‘Ž.(๐‘.๐‘)|.
22. Carilah volume tetrahedron dengan titik-titik sudut (-1,2,3),(4,-1,2), (5,6,3), dan (1,1,-2)
Penyelesaian :
a = <−1,2,3> = <5,−3,−1>
b = <4,−1,2> = <6,4,0>
c = <1+1,1−2,−2−3> = <2,−1,−5>
Volume = 16 |๐‘Ž (๐‘๐‘)|
= 16 |<5,−3,−1> <−20,30,−14>|
= 16|−176|
= 883
23. Buktikan kesamaan Lagrange
|๐’–×๐’—|2=|๐‘ข|2|๐‘ฃ|2−(๐’–∘๐’—)
Lakukan ini tanpa menggunakan Teorema A.
24. Buktikan hukum distributif kiri
๐’–×(๐’—+๐’˜)=(๐’–×๐’—)+(๐’–×๐’˜)
Penyelesaian:
mis : ๐‘ข=(๐‘ข1,๐‘ข2,๐‘ข3),๐‘ฃ=(๐‘ฃ1,๐‘ฃ2,๐‘ฃ3),๐‘ค=(๐‘ค1,๐‘ค2,๐‘ค3)
maka,
u ×( v + w ) = [(๐’–๐Ÿ๐’—๐Ÿ‘−๐’–๐Ÿ‘๐’—๐Ÿ)+(๐’–๐Ÿ๐’˜๐Ÿ‘+๐’–๐Ÿ‘๐’˜๐Ÿ),(๐’–๐Ÿ‘๐’—๐Ÿ−๐’–๐Ÿ๐’—๐Ÿ‘)+(๐’–๐Ÿ‘๐’˜๐Ÿ−๐’–๐Ÿ๐’˜๐Ÿ‘),(๐’–๐Ÿ๐’—๐Ÿ−๐’–๐Ÿ๐’—๐Ÿ)+(๐’–๐Ÿ๐’˜๐Ÿ−๐’–๐Ÿ๐’˜๐Ÿ)]
= ( u × v ) + ( w × u ).
25. Gunakan soal 24 dan hukum antikomutatif untuk membuktikan hukum distributif kanan.
Penyelesain: (๐‘ฃ+๐‘ค)×๐‘ข=−(๐‘ข×(๐‘ฃ+๐‘ค)) ๐ป๐‘ข๐‘˜๐‘ข๐‘š ๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘– ๐‘˜๐‘œ๐‘š๐‘ข๐‘ก๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘“ =−((๐‘ข×๐‘ฃ)+(๐‘ข×๐‘ค)) =−(๐‘ข×๐‘ฃ)+(−(๐‘ข×๐‘ค)) =(๐‘ฃ×๐‘ข)+(๐‘ค×๐‘ข)
26. Jika ๐’–×๐’—=0 dan ๐’–∘๐’—=0, apa yang dapat anda simpulkan tentang u atau v?
Penyelesaian :
๐’–×๐’—=0 dan ๐’–∘๐’—=0, jika dua buah vector saling tegak lurus, maka hasil kali titiknya sama dengan nol, sebaliknya jika hasil kali titik dari dua vector yang bukan vector nol sama dengan nol. Jika dua buah vector saling sejajar, maka hasil kali silangnya sama dengan nol, sebaliknya jika hasil kali silang dari dua vector yang bukan nol sama dengan nol.
27. Gunakan Contoh 3 untuk mengembangkan suatu rumus untuk luas segitiga yang titik-titik sudutny adalah P(a,0,0), Q(0,b,0), dan R(0,0,c) yang diperlihatkan pada setengah bagian atas Gambar 6.
28. Perlihatkan bahwa segitiga pada bidang yang titik-titik sudutnya (๐‘ฅ1,๐‘ฆ1),(๐‘ฅ2,๐‘ฆ2), dan (๐‘ฅ3,๐‘ฆ3) memiliki luas yang sama dengan setengah nilai mutlak determinan
|๐‘ฅ1๐‘ฆ11๐‘ฅ2๐‘ฆ21๐‘ฅ3๐‘ฆ31|
29. (Teorema Pythagoras dalam Ruang Dimensi Tiga) sebagaimana terlihat pada Gambar 6, misalkan P,Q,R,O sebagai titik-titik sudut suatu tetrahedron (siku-siku) dan misalkan
A,B,C,dan D masing-masing adalah luas bidang-bidang yang terletak berhadapan. Perlihatkan bahwa ๐ด2+๐ต2+๐ถ2=๐ท2
Penyelesaian :
L = 12๐‘Ž.๐‘ก
A = 12(OQ).(OR)
B = 12(OP).(OR)
C = 12(OQ).(OP)
30. Misalkan vektor-vektor a, b, dan c dengan titik pangkal sekutu membentuk sebuah tetrahedron dan m, n, p, dan q adalah vektor-vektor yang tegak lurus terhadap keempat bidangnya,mengarah ke luar dan panjangnya sama dengan luas bidang yang berpadanan. Perlihatkan bahwa m + n + p + q = 0
Penyelesaian :
Perhatikan luas yang ditentukan oleh a dan b adalah 12‖๐‘Ž๐‘‖
m = 12(๐‘Ž๐‘)
n = 12 (๐‘๐‘)
p = 12 (๐‘๐‘Ž)
Empat bidang ditentukan oleh
๐‘Ž−๐‘ dan ๐‘−๐‘ jadi
q = 12[(๐‘−๐‘)(๐‘Ž−๐‘)]
A
C
B
D
= 12[(๐‘๐‘Ž)−(๐‘๐‘)−(๐‘๐‘Ž)+(๐‘๐‘)]
= 12[−(๐‘Ž๐‘)−(๐‘๐‘)−(๐‘๐‘Ž)]
m + n + p + q = 12 [(๐‘Ž๐‘)+ (๐‘๐‘)+ (๐‘๐‘Ž)−(๐‘Ž๐‘)−(๐‘๐‘)−(๐‘Ž๐‘)] = 0
31. Misalkan a,b dan a-b adalah ketiga sisi suatu segitiga yang panjangnya masing-masing adalah a, b, dan c. gunakan Kesamaan Lagrange beserta rumus 2 a·b = |๐’‚|๐Ÿ+|๐’ƒ|๐Ÿ−|๐’‚−๐’ƒ|๐Ÿ untuk membuktikan Rumus Heron untuk luas segitiga A, yaitu
๐ด=√๐‘ (๐‘ −๐‘Ž)(๐‘ −๐‘)(๐‘ −๐‘)
Dengan s adalah setengah keliling (a+b+c)/2.
32. Gunakan metode pada Contoh 5 untuk membuktikan secara langsung bahwa jika ๐’–= ๐‘ข1๐’Š+๐‘ข2๐ฃ+๐‘ข3๐ค dan ๐’—=๐‘ฃ1 ๐ข+๐‘ฃ2๐ฃ+๐‘ฃ3๐ค,maka ๐ฎ×๐ฏ=(๐‘ข2๐‘ฃ3−๐‘ข3๐‘ฃ2)๐ข+(๐‘ข3๐‘ฃ1−๐‘ข1๐‘ฃ3)๐ฃ+(๐‘ข1๐‘ฃ2−๐‘ข2๐‘ฃ1)๐ค
Penyelesain:
U × v = (๐‘ข1๐‘–+๐‘ข2๐‘—+๐‘ข3๐‘˜) × (๐‘ฃ1๐‘–+๐‘ฃ2๐‘—+๐‘ฃ3๐‘˜)
= (๐‘ข1๐‘ฃ1)(๐‘– ๐‘ฅ ๐‘–)+(๐‘ข1๐‘ฃ2)(๐‘– ๐‘ฅ ๐‘—)+(๐‘ข1๐‘ฃ3)(๐‘– ๐‘ฅ ๐‘˜)+(๐‘ข2๐‘ฃ1)(๐‘— ๐‘ฅ ๐‘–)+(๐‘ข2๐‘ฃ2)(๐‘— ๐‘ฅ ๐‘—)+(๐‘ข2๐‘ฃ3)(๐‘— ๐‘ฅ ๐‘˜)+(๐‘ข3๐‘ฃ1)(๐‘˜ ๐‘ฅ ๐‘–)+(๐‘ข3๐‘ฃ2)(๐‘˜ ๐‘ฅ ๐‘—)+(๐‘ข3๐‘ฃ3)(๐‘˜ ๐‘ฅ ๐‘˜)
= (๐‘ข1๐‘ฃ1)(0)+(๐‘ข1๐‘ฃ2)(๐‘˜)+(๐‘ข1๐‘ฃ3)(−๐‘—)+(๐‘ข2๐‘ฃ1)(−๐‘˜)+(๐‘ข2๐‘ฃ2)(0)+(๐‘ข2๐‘ฃ3)(๐‘–)+(๐‘ข3๐‘ฃ1)(๐‘—)+(๐‘ข3๐‘ฃ2)(−๐‘–)+(๐‘ข3๐‘ฃ3)(0)
=(๐‘ข2๐‘ฃ3−๐‘ข3๐‘ฃ2)๐‘–+(๐‘ข3๐‘ฃ1−๐‘ข1๐‘ฃ3)๐‘—+(๐‘ข1๐‘ฃ2−๐‘ข2๐‘ฃ1)๐‘˜

1 komentar: